Postingan

Sejengkal Tanah

Hari ini kita menapak bumi Tertawa dan bersenang hati Kita berjalan dengan angkuh Hingga lupa tanah mencarut Kita lupa sembahyang Kita lupa beriman Iman di dada setipis kulit bawang Hilang di bawa angin dunia fana Hari ini kita tertawa Menghirup nafas dengan congkak Lupa di mana kita berlindung Lupa di mana kita kembali Terbayangkah kita? Jika besok kita mati Jika nanti kita mati Jika sebentar lagi kita mati Amalan apa yang akan menjamin kita merengkuh surganya? Harta dan kenikmatan dunia? Tidak, semuanya lenyap. Tinggallah kebenaran Hari ini kita memakai sutra Boleh jadi besok kita memakai kafan Hari ini kita tidur di ruang mewah Boleh jadi besok kita tidur di liang lahat Hari ini kita bergelimang kemewahan Bisa mungkin esok kita bergelimangkan siksa Hari ini kita tersenyum Bisa mungkin esok di kubur kita meraung Hari ini kita berteman sahabat Boleh jadi di kubur kita berteman ulat Hari ini rupa kita mulia Boleh jadi esok di kubur kita hancur bak ...

Bagaimana rasanya menjadi aku?

Kamu pernah menjadi bagian hari-hariku. Setiap malam, sebelum tidur, kuhabiskan beberapa menit untuk membaca pesan singkatmu. Tawa kecilmu, kecupan berbentuk tulisan, dan canda kita selalu membuatku tersenyum diam-diam. Perasaan ini sangat dalam, sehingga aku memilih untuk memendam. Jatuh cinta terjadi karena proses yang cukup panjang, itulah proses yang seharusnya aku lewati secara alamiah dan manusiawi. Proses yang panjang itu ternyata tak terjadi, pertama kali melihatmu; aku tahu suatu saat nanti kita bisa berada di status yang lebih spesial. Aku terlalu penasaran ketika mengetahui kehadiranmu mulai mengisi kekosongan hatiku. Kebahagiaanku mulai hadir ketika kamu menyapaku lebih dulu dalam pesan singkat. Semua begitu bahagia.... dulu. Aku sudah berharap lebih. Kugantungkan harapanku padamu. Kuberikan sepenuhnya perhatianku untukmu. Sayangnya, semua hal itu seakan tak kaugubris. Kamu di sampingku, tapi getaran yang kuciptakan seakan tak benar-benar kaurasakan. Kamu berad...